Sebagai seorang yang lahir dan besar di Lampung Timur, saya pernah menggantungkan harapan tinggi kepada daerah yang dijuluki Bumei Tuah Bepadan. Julukan yang saya ketahui artinya sebagai daerah yang mempunyai kemakmuran bagi masyarakat apabila segala keputusan melalui musyawarah untuk mufakat. Karena, kabupaten yang memiliki luas wilayah kurang lebih 5.325,03 km2 atau sekitar 15% dari total wilayah Provinsi Lampung dilansir dari laman akun Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, memiliki diversifikasi dan potensi sumber daya yang mempesona. Idealnya, Lampung Timur bukan hanya menunjukkan pendar di beberapa wilayahnya, tapi mestinya bisa memancarkan cahaya kehidupan di segala sisinya.
Berbicara tentang Lampung Timur, tidak lengkap jika hasil bumi yang melimpah, absen dari pembahasan. Padi, singkong, jagung, lada hitam, kakao, pisang dan masih banyak tanaman pertanian dan perkebunan lain yang sering menjadi komoditi ekspor, banyak disumbang dari daerah yang beribukota di Sukadana ini. Tak mengherankan memang, karena peta wilayah Lampung Timur memang sebagian besar dimanfaatkan sebagai area pertanian/perkebunan yang mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. Tentunya visinya yang menggaungkan terwujudnya Lampung Timur menjadi daerah agribisnis banyak ditopang oleh hasil pertanian dan perkebunan yang melimpah ruah itu.
Dari lahir, saya disuguhkan pemandangan dan stigma yang ‘kurang sedap’ dari lingkungan tempat saya hidup yang sebagian besar profesi masyarakatnya adalah petani. Sedari dulu, petani yang merupakan ‘juru kunci’ kemakmuran daerahnya, selalu terpinggirkan. Padahal, gabah yang merupakan cikal bakal beras yang menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia ini, dihasilkan dari tangan-tangan ajaib sang petani. Hingga, menjadi petani bukanlah menjadi gantungan cita-cita dan profesi idaman para pemuda masa lalu hingga saat ini. Tanya kenapa?
Bertumbuh di salah satu desa di perbatasan Lampung Timur-Metro, membuat saya banyak membandingkan. Sebenarnya, saya lebih takjub dengan kekayaan yang beragam di Lampung Timur, tanah kelahiran saya. Mulai dari hasil sawah, kebun serta lautnya hingga banyaknya warisan budaya yang masih eksis layaknya tak terkikis zaman. Ibarat sebuah toko, Lampung Timur merupakan Toko Serba Ada yang masih butuh rak pajang dan susunan yang tepat agar mudah mencarinya.
Mau mencari apa di Lampung Timur?
Beras? Jangan diragukan lagi, hampir di setiap wilayahnya pasti memiliki berhektar-hektar sawah nan subur yang menjadi lumbung padi.
Bunga, tanaman hias dan bibit tanaman? Meluncur saja ke Pekalongan, cukup 1-1,5 jam dari Kota Bandar Lampung, kita akan disuguhkan indahnya bunga dan ranumnya buah-buahan karena daerah ini merupakan kawasan Agro Wisata.
Ingin menelusuri budaya Lampung?
Di Ibukota Lampung Timur, Sukadana, lebih kaya akan warisan nenek moyang karena di sana kita bisa menjumpai kampung etnik yang khas (nuwo sesat) dan bernuansa arsitektur lokal. Nampaknya memang sudah ada inisiatif untuk mengukuhkannya menjadi sebuah rumah informasi budaya namun minim publikasi, padahal arsip budaya di dalamnya termasuk lengkap dan terawat. Lagi, peran pemerintah, budayawan dan masyarakat ditantang untuk bisa mengglobalkan budaya Lampung Timur agar tidak sekadar dilirik saja. Kita bisa belajar di salah satu daerah yang bahkan harus meneliti sejarah untuk mencari cagar budaya dan mati-matian membawanya ke ranah publik untuk senantiasa bersama merawat sejarah. Selain Sukadana, ada beberapa daerah yang masih melestarikan rumah tradisional Lampung sebagai hunian mereka.
Tertarik bercengkrama dengan gajah?
Mari kita bergerak ke Taman Nasional Way Kambas di Labuhan Ratu, kita akan melihat hamparan hutan dengan bermacam jenis burung dan aneka satwa liar di perjalanan menuju Pusat Konservasi Gajah Way Kambas. Pengalaman melihat gajah secara langsung, tidak dapat ditukar dengan apapun. Way Kambas juga merupakan tempat penangkaran gajah dan badak Sumatera. Wisata flora fauna ini ada di Lampung Timur saja.
Kalau situs purbakala?
Jelas ada, Taman Purbakala Pugung Raharjo juga terletak di Lampung Timur tepatnya di kecamatan Sekampung Udik. Situs ini memiliki benda-benda peninggalan budaya Hindu-Budha, punden berundak, arca dan banyak peninggalan bersejarah lain.
Tidak mudah memang merawat situs sejarah, apalagi banyak masyarakat yang apatis karena merasa tak bertalian dengan budaya tersebut. Sebagai contoh, lingkungan hidup tempat saya tinggal didominasi oleh suku Jawa, produk kolonisasi dan transmigrasi tempo dulu. Kakek buyut saya merupakan transmigran dari Jawa Tengah yang masih menganggap diri mereka adalah ‘pendatang’ sehingga bahasa daerah lokal Lampung hingga budayanya terkesan enggan dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Saya justru menemukan, penduduk lokal menjadi fasih berbahasa Jawa karena banyak hal yang mendasari, pernikahan, perniagaan dan lain-lain. Namun, hal ini membuktikan bahwa suku Lampung itu sebenarnya terbuka tangannya dengan adanya pendatang. Hal ini sesuai falsafah hidup masyarakat Lampung yaitu Piil Pesenggiri yang bisa diartikan bahwa masyarakat Lampung bisa hidup berdampingan secara damai antar penduduk Lampung maupun kepada masyarakat pendatang. Lagi-lagi karena adanya oknum yang kurang terbuka dengan perkembangan menjadikan suku lampung ‘tertuduh’ mengisolasi diri dan tidak mau berubah demi kemajuan bersama.
Sebenarnya kalau dilihat ke belakang, sebelum pandemi melanda, beberapa event akbar sering digelar seperti Festival Way Kambas dan beberapa acara yang sengaja dibuat untuk mengenalkan ke masyarakat betapa kayanya Lampung Timur. Namun, perayaan itu pada akhirnya menjadi sebuah selebrasi dan seremonial belaka yang membuat kita kesulitan menemukan ruhnya. Gelaran-gelaran tersebut jelas banyak menyedot animo masyarakat untuk mengenal kabupaten Lampung Timur lebih mendalam. Namun, saya menginginkan dan menggali untuk menyuguhkan pada dunia lebih dari sekadar simbolisme semata.
Mimpi saya kala itu, daerah yang memiliki Pantai Kerang Mas sebagai salah satu destinasi wisata keluarga, dapat menunjukkan jati dirinya secara spontan. Layaknya saat menyebut ‘tahu’, maka Sumedang ada di ingatan kita. Apabila ada aneka sambal nikmat dari terasi, saya berharap khalayak teringat Labuhan Maringgai karena menjadi daerah penghasil terasi yang tidak diragukan kelezatannya. Lebih jauh, optimalisasi potensi sumber daya alam serta kebudayaan Lampung Timur bukan hanya akan menjadikannya surga bagi warganya tapi akan berdampak lebih luas lagi.
Di bidang literasi budaya, hendaknya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tidak mandek mengenalkan kebudayaan Lampung Timur terbatas pada muatan lokal saja. Kolaborasi antar stake holder dalam menumbuhkembangkan kebudayaan daerah di hati anak-anak tidak melulu hanya melalui kurikulum di bangku sekolah dan digantungkan sepenuhnya kepada guru bahasa daerah saja. Buatlah event yang kontinyu yang menarik minat generasi muda untuk membuat budaya Lampung kembali bergeliat. Bisa dengan kelas inspirasi, kelas mendongeng, berbagai lomba seperti menulis indah aksara lampung atau Lomba Cepat Tepat (LCT) budaya dan sejarah Lampung Timur serta wisata edukasi mengelilingi Lampung Timur yang dikemas apik dalam kolaborasi program pemerintah daerah, Dinas yang terkait, budayawan serta masyarakat.
Kalau untuk urusan sumber daya alam, libatkan anak muda untuk mengelola. Pernah dengar Keripik Maicih? Salah satu keripik berbasar dasar singkong yang terkenal karena level pedasnya itu juga digarap anak muda. Tentunya usaha tidak harus sama, tapi pemuda era ini mempunyai cara keatif dalam berkarya. Karang Taruna ada di setiap desa bisa bersama-sama merancangnya. Tapi yang utama, pemerintahnya juga tidak boleh abai untuk duduk bersama meningkatkan industri kreatif para pemuda dengan memberi wadah nyata. Apa itu? Bapak Ibu yang katanya perwakilan aspirasi rakyat yang sering turun ke desa tahu betul, tinggal masa eksekusinya. Sekarang atau nanti-nanti.
Saya yakin, nenek moyang kita pasti bangga melihat pemuda dan pemudinya melanjutkan tongkat estafet para pendahulunya. Kalau belum bisa mencipta, hendaknya melestarikan menjadi opsi utama agar budaya kita tidak tergerus masa. Apa yang kita lakukan sekarang, akan kita tuai pada masa mendatang. Apa yang kita biarkan sekarang, akan hilang tertelan zaman. Walaupun bukan peramal, tapi prediksi bisa kita lakukan sekarang.
Jadi masih percaya Lampung Timur itu kaya??
Penulis : Etika Lisyana Dewi

Komentar
Posting Komentar