PERASAAN
YANG TAK BERNAMA
Oktober 2019
Aku memposting foto bersama temanku, beberapa momen yang aku
abadikan saat aku menjenguk salah satu sahabat di kota kembang ini. Tak
seberapa lama, aku melihat seseorang me-like
postingan yang baru saja aku unggah. Aku mengerjapkan mata, tidak salah, ini Rakha
Daruna, lelaki yang pernah aku kenal. Aku bahkan lupa kalau kita saling follow
di media sosial. Bayanganku melesat jauh ke masa lalu sehingga jari ini tak
kuasa menolak perintah hati untuk menyapanya, ku cari namanya tadi dan dengan
sekali klik aku mulai memulai percakapan dengannya.
“Kemaren aku ke
Bandung, kotamu,,,,” Aku menyengaja untuk menggantung kalimat, ingin tahu
rasanya balasan darinya.
“Bandungnya di
mana, ngapain, kok gak ngomong?” Secepat kilat dia membalas, dan deegg, hatiku
rasanya panas. Aku sempet terdiam beberapa detik dan melambungkan ingatanku ke beberapa tahun yang
lalu, bilangan tahun berlalu tanpa ada ucapan perpisahan.
“Di RSHS, cuman
nengok temen, terus aku balik lagi ke Jakarta.” Aku lekas membalas, ada rasa
takut dia tidak merespon.
“Idih, bunda gak
ngomong, kan ayah kemaren seharian di Pasteur.” Rakha membalas cepat, tidak
butuh berdetik-detik atau bahkan bermenit-menit balasan itu melesat.
What???? Aku
harus menguasai hatiku, dia mudah saja memanggilku kembali dengan sebutan itu,
padahal aku menahan diri untuk tidak memulai, dadaku sesak dipenuhi perasaan
bahagia. Entah, aku merasa bersalah saja saat itu.
April 2013
Keputusanku
sudah bulat untuk meninggalkan lelaki yang selama 5 tahun ini membuatku nyaman,
aku pergi karena rasanya hubungan ini jalan di tempat saja. Dia tidak pernah
ada usaha untuk mendatangiku di provinsi ini, sementara aku ingin sekali
mengenalkannya kepada keluargaku di Lampung. Tapi, daya upayanya mandeg saja,
aku jengah dan mengambil kesimpulan sendiri untuk menutup kisah kita berdua.
Berat sekali, tapi inilah keputusan final yang sudah aku ambil. Memulai lagi
lembaran baru dengan orang yang baru, lima hari aku mengurung diri di kamar,
berteman sepi. Aku hancur sejadinya, setelah itu aku sengaja memblokir semua
nomor dan media sosialnya, agar aku tidak kehilangan kewarasan lagi. Aku
berharap sekali kalau dia jodohku, walaupun pada saat itu bahkan kami tidak
pernah menamai hubungan ini.
Agustus 2014
Pada akhirnya
aku memutuskan menjadi seorang istri dari kakak tingkat di kampusku. 21 Agustus
menjadi penanda bahwa aku sekarang menyandang gelar nyonya Salman Hidayat. Saat
itu, setahun setelah wisuda, ada pria baik yang ingin menyuntingku, mengajakku
saling menyempurnakan separuh agama sehingga tidak ada alasanku untuk menolak.
Kami hampir tidak menjalani kisah seperti pasangan kebanyakan, karena bagiku
niatnya sudah baik, ingin menjadikanku istri bukan pacar apalagi dengan status
tidak jelas. Setahun kemudian aku melahirkan seorang bayi tampan yang aku beri
nama Rakha Hidayat, nama Rakha memang sudah melekat di sanubari. Bahkan suamiku
tidak pernah tahu hal ihwal aku ngotot sekali menamai putra kami dengan nama
itu.
Agustus 2019
Perjalanan
rumah tangga kami nyaris tidak bergejolak hingga di tahun ke 5 ini, aku dikirim
kantorku untuk pendidikan di Jakarta. Sepanjang usia pernikahanku, aku terlalu
disibukkan dengan keluarga dan urusan kantor, hingga nama Rakha Daruna bahkan
tidak pernah sekalipun terlintas di pikiranku. Setia menjalani hidup sebagai working
mom yang selalu merindukan Jumat sore. Hari-hari bergulat dengan rutinitas
tanpa batas, rumah-kantor dan menanti weekend untuk rekreasi bersama
keluarga kecil.
Oktober 2019
Aku masih belum
berkedip menatap layar ponselku, susunan kata ini kacau, sekacau pikiran yang
semakin membuyar, gejolak jiwaku membuncah, ini Oktober dan usiaku 30 tahun,
apa aku masih pantas merasakan debar-debar yang sudah terdelay ratusan
purnama?
“Iya deh, lain
kali kalo ke Bandung, aku kabarin deh, aku dengan keluargaku dan kamu dengan
keluargamu juga.” Aku mengginggit bibirku, pedihnya meresap ke hati.
“Bisa-bisa,
kita gathering ya Bun?”, omaigot,,,Rakha sekali lagi meruntuhkan pasukan
kokoh yang melingkupi hatiku, semua runtuh tak beraturan.
“Emm lucu ya,,,,?
Aku menimpali balasannya.
“Iya, lucu, ada
orang yang selalu membuat ayah nyaman, walaupun gak tau dia di mana, dia
seperti apa, tapi selalu dikangenin...” Rakha menjawab tanpa dosa, sedangkan
pipiku memerah, hatiku panas dan senyumku terkembang. Uli, kamu bukan abege
lagi, kamu seorang istri sekaligus ibu dari seorang anak yang sudah Taman
Kanak-kanak. Diskusi dengan hati dan otak memang tidak selalu sejalan, di sisi
lain, aku merasa ini salah, tapi di sisi sudut hatiku yang terdalam, aku
merindukan bahasa ini, yang teramat jarang aku dapatkan dari sosok suamiku yang
super duper flat.
“Bahkan pernah
sayang.” Astaga,,, bisa-bisanya aku membalasnya dengan kalimat yang bernada
provokatif. Tapi, rasa di hati ini lega, paling tidak Rakha akhirnya tahu kalau
aku pernah sayang dan mengharapkannya kala itu.
“Iya, sama,
coba dulu yah** messenger gak hilang, pasti kita masih bisa komunikasi dan
mungkin ceritanya lain ya.” Rakha tega sekali, bahkan dia menyalahkan aplikasi,
bukannya kalau sayang harusnya dia mencari jalan?
Bukannya, kalo
cinta dia harus membuktikan, bukan omong kosong doang?
“Haha,,,
sudahlah, paling tidak kisah kita jadi pengalaman, toh sekarang kita sudah
bersama jodoh masing-masing dan bahagia?” Aku menekankan kekosongan di jiwaku
dengan kata bahagia agar aku tidak terlihat menyedihkan di depannya.
“Iya, maaf bun,
kebawa suasana sih.” Rakha dengan polosnya menimpali.
Maaf gundulmu,
hati ini sudah sakit Rakha, dan bukannya menyembuhkan malah kau membukanya, ditambah
jeruk nipis dan garam, pedih.
“Ya sudahlah,
yang penting kan kita saudara sekarang, kalau aku ke Bandung, udah ada tour
guide yang ready setiap saat buat aku.” Saat aku membalas pesannya,
hati ini sakit dan teriris, tapi anehnya aku tidak menangis, mungkin belum.
“Oke, pokoknya
kalau ke sini, mau ke mana aja pasti ayah anter, just calling, kamu
jangan ke mana-mana sendiri, kalau ada apa-apa gimana, ayah kan yang bakalan
sedih?”
Helloo,,,
Rakha, aku ini emak-emak, bukan gadis beliamu lagi, bahasamu segombal itu ya,,,
istrimu pasti bahagia. Aku kok ngenes dan menangis batin mengingat
suamiku yang tak pernah menggombaliku. Hidupnya lurus-lurus saja, bahkan dia
diam saja saat aku marah. Ingin sekali aku mengatakan bahwa aku merindukan
Rakha dan menghambur ke peluknya sambil menangis sesenggukan dan dia pasti
mengusap kepalaku dengan penuh rasa sayang. Lamunanku terlalu melambung akibat
suasana yang entah tak bernama.
“Yeee, eh, gak
usah panggil ayah bunda lagi ya,,, nanti muncul kontroversi, toh kita kan
memang gak ada apa-apa, gimana kalo aku panggil Aa aja ya?”
Ya Allah,
Tuhanku, aku sedih sekali setelah meng-enter pesanku. Rasanya kok aku
tega sekali memutus nostalgia masa lalu ‘kita’, dia dan aku. Teringat blog ku
dulu aku namakan “Rakha & Uli Forever”, sekarang di mana forevernya??
Lucu memang kalau diingat-ingat kembali, apalagi aku dulu selalu berharap dia
akan datang secara gentleman dan memintaku menjadi istrinya. Yang pasti,
itu dulu sekali saat, kehaluan sedang di puncak-puncaknya.
“Iya juga, ya
udah kalo gitu, aku panggil teteh ya?” Rakha membalas pesanku dan aku
mendekatkan ponsel ke mataku, dia sungguh terlalu.
“Boleh juga,,,”
Aku menggantung kalimatku lagi, berharap dia mampu mengejar isi hatiku yang
sudah tumpah sedari tadi. Tapi apa???
“Ya udah, kalo
ke Bandung lagi hubungi No. Ini ya, 0819*********, itu No. WA ku, jangan lupa
pokoknya.”
“Iya A, bye.”
Aku membalas singkat, rasanya aku ingin menelan Rakha bulat-bulat.
“Bye, see you
soon, jaga kesehatan ya lagi musim sakit.” Rakha dengan manisnya membalas
pesanku. Seketika, aku menutup mata, hitungan ke lima aku menghapus
pesan-pesannya. Tak sanggup rasanya membaca ulang pesan-pesan darinya yang
sanggup membuatku diabetes karena saking manisnya. Aku tak mampu pula
mengabaikan posisiku saat ini, dan terlebih, aku sudah melewatkan satu stasiun
pemberhentian keretaku, sehingga aku harus putar balik lagi. Saat itu juga, aku
mengutuki diri sendiri, kenapa aku memulai obrolan yang berujung menyesakkan
dada.
Rakha adalah
kisah manis di awal masa kuliahku dulu. Aku mengenalnya secara ajaib, lewat
yah** chat yang sedang booming kala itu. Dia sangat dewasa dan selalu
mendengar keluh kesah serta curhatan tak jelas gaya mahasiswi. Rakha tidak
kuliah, dia punya usaha wedding organizer sekaligus mengelola sebuah
kafe bernuansa etnic bersama kakaknya. Dia asli Sunda dan terbiasa kerja
keras sedari kecil setelah kedua orangtuanya meninggal persis saat Rakha
menyelesaikan ujian sekolah dasarnya. Lelaki itu satu tahun lebih muda dariku,
tapi pola pikirnya jauh melebihi aku, karena hal inilah aku menyukainya.
Buliran bening
akhirnya lolos melewati sudut mataku, dadaku sesak, tak sadar aku sesenggukan
dibuatnya. Ternyata aku merindukannya, aku tak mampu menahan perasaan ini.
Sekilas nampak bayangan suami dan anakku yang tersenyum menunggu kepulanganku,
tapi bayangan Rakha lebih jelas tergurat. Apa dia merasakan hal yang sama???
November 2019
Sedari malam
aku sudah menyiapkan koper berisi peralatan perangku di Jakarta ini. Aku memastikan
tidak ada yang tertinggal di sini karena aku harus segera ke bandara sebelum
jam 3 sore ini. Aku berencana makan siang dan sholat dulu sebelum berangkat.
Aku memeriksa lagi e-ticket yang sudah aku pesan via aplikasi dan semua
sudah oke. Saatnya aku rebahan dulu sebentar dan menunggu adzan dzuhur, saat
melihat layar ponsel, aku dikejutkan dengan sebuah pesan.
“Assalamualaikum
teh, aku di Jakarta, kamu di mana?” Cobaan dan godaan apalagi ini? Aku ingin
mengabaikan pesan itu, tapi kembali aku membacanya, sudah ratusan kali bahkan
dan aku coba beristighfar dalam hati. Aku ingin sekali menghapus pesannya dan
bertingkah seolah-olah tidak pernah membacanya, tapi tulangku rasanya meluruh,
hatiku merindunya.
“Kamu ngapain
ke Jakarta, aku siang ini pulang.” Aku mencoba menata hati.
“Pesawat atau
bis?” Dia membalas cepat.
“Pesawat A,
bandara Soeta, jam 3.” Setelah yakin pesanku terbaca, sesegera itu aku
mematikan ponselku.
Tepat jam 2 aku
sampai di bandara, aku langsung menghidupkan ponsel untuk proses check in
tiket. Aku melihat puluhan pesannya tumpang tindih, tapi sengaja tidak aku baca
karena aku sadar bahwa ini hanya godaan yang kalau aku melewatinya, maka aku
bisa melewati yang lebih besar lagi nantinya.
Aku mulai
memasuki pintu keberangkatan saat ada lelaki memanggil namaku, seketika aku
menoleh dan mematung. Dia berlari dan langsung memelukku tanpa berbasa-basi,
dan anehnya aku tidak menolaknya. Aku
menikmati hangatnya dekapan Rakha tanpa berkata-kata, sembari mengelus ujung
kepalaku dia mengeratkan pelukannya. Detik itu, aku menangis, iya benar-benar
menangis dan aku lagi-lagi tidak tahu harus menamai apa perasaan itu.
Rakha Daruna
adalah kisah, pada akhirnya aku menjumpainya setelah bertahun-tahun hanya berhibernasi,
kini hawa panas membuatnya muncul. Tapi kisah ini sudah aku tuntaskan seketika
setelah aku melepaskan erat pelukannya, itu adalah pelukan pertama dan terakhir
kami. Aku bisa memandang wajahnya sedekat itu, dia teramat tampan dan
pandangannya teduh, hatiku benar-benar menemukannya setelah 5 tahun lebih tidak
berkomunikasi sama sekali, tapi takdir nyatanya tidak.
Rakha dan aku
bersepakat menyudahinya sampai di sini karena semakin diteruskan akan banyak
orang yang tersakiti. Rakha berbisik pelan dan menyatakan dia menyesal karena tidak
pernah mencariku setelah sekian lama. Aku terluka, itu pasti, tapi ini sudah terjadi dan waktu enggan
diputar kembali.
“Bahagialah,
Bunda.” Rakha melepasku dengan terisak.
“Ka-mu ju-ga.”
Aku terbata karena mataku sudah basah dan pada akhirnya lambaian tangan adalah jalan terampuh. Aku
berjalan terus dan tak akan berbalik walau pedih ini menghujam. Hiduplah dengan
baik Rakha Daruna karena takdir punya jalan yang unik untuk mempertemukan dan
memisahkan kita. Aku mencintaimu.
Jakarta, 22
November 2019
#cerpen
Komentar
Posting Komentar