Langsung ke konten utama

CERPEN-LELAKIKU, ABI


Hari ini memang sedikit terik, sinar matahari sedang hangat-hangatnya memenuhi ruang, bukan ruang hati pastinya. Hari ini tepat 1 tahun kepergianku meninggalkannya, lelakiku. Terkadang, aku saja yang merasa bersalah telah meninggalkannya, seorang pria baik yang selalu pengertian. Selalu ada saat aku butuh dan aku selalu tidak ada saat dia butuh. Dia bahkan tak pernah mengeluh saat aku pergi, dia justru yang merasa bersalah saat aku memberikan banyak sekali alasan klise, klasik dan palsu untuk pergi meninggalkannya. Padahal, di hatiku masih terselip rasa sayang dan terkadang merindu. Abi, nama laki-laki yang hanya pasrah saat aku menjauh dan semakin menjauh. Dia juga hanya bisa mengucapkan ribuan maaf saat aku melangkah pergi.

Sepagi ini hatiku gelisah saja, bayangannya melintas terus dibenakku. Sekelebat siluetnya pun muncul dan tak mau pergi. Iseng saja aku cari facebooknya dan ketemu, tidak bisa diungkapkan lagi, aku merindukannya. Aku tersenyum kecut mengutuki kebodohanku sendiri. Di saat ada masalah pelik dengan suamiku, aku sibuk mencarinya. Karena di sosoknya, aku selalu menemukan keteduhan dan ketenangan. Masih asyik menyelami kenangan masa lalu saat bersamanya, tapi aku menemukan sedikit kejanggalan. Aku bertanya dalam hati kenapa sudah tidak ada fotoku dan quote-quote galau miliknya dulu. Sepertinya memang dia sudah benar-benar ingin mengubur ingatan tentangku.

Tidak mudah pastinya, 6 tahun bersama dan harus kandas begitu saja tepat saat malam pergantian tahun. Aku berkali-kali menolak dia kembali, bahkan saat aku sedang bermasalah, dia selalu membuka tangannya selebar-lebarnya untukku. Belum selesai aku scroll down facebooknya, aku dikagetkan dering ponselku yang di layarnya bertuliskan nama ‘SDRA JAWA’ yang merupakan nomor ponselnya ‘ABI’ yang sengaja aku ganti namanya di kontakku supaya suamiku, Mas Ardhan tidak curiga. Seketika aku gemetar, apakah dia merasakan hal yang sama??

Keraguan untuk memulai percakapan semakin menggelayut, saat aku mau menekan ‘YES’ dipanggilanku, dering itu mati. Aku berdiskusi dengan hatiku, ‘Apakah aku harus kembali padanya?’ atau ‘Apakah aku harus kembali ke realita dengan orang yang sudah aku pilih sendiri?’ Gemuruh perasaan ini semakin menjadi, aku galau, segalau-galaunya. Aku semakin ingin kembali kepelukannya karena tidak ada orang sesabar dia di dunia ini, setidaknya yang pernah aku temui sebelumnya. Dan, nyatanya aku menyia-nyiakannya demi mendapatkan seorang lelaki pujaan hati seluruh wanita. Berat sekali aku lewati tahun ini, beban pekerjaan yang semakin bertambah dan kecamuk batin dengan suamiku membuatku semakin ingin pergi.

Aku beringsut dari kursi kerjaku dan berjalan gontai untuk mencuci mukaku. Aku putuskan untuk menelponnya, mencari alasan untuk bertemu dengannya. Aku rindu dipeluknya, ternyata aku serindu ini, inilah hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku menelfon dia, dan seperti dugaanku, dia pasti merespon dengan cepat. Aku katakan untuk menjemputku di kantor, tentu saja jangan sampai ketahuan suamiku, aku memaksa dia meminjam jaket ojek online milik temannya. Pukul 4 kurang satu menit dia sudah sampai di kantor, dengan jaket hijau itu, tentu saja tidak akan ada yang curiga.

Aku lega, memeluknya sepanjang jalan membuat aku lupa bahwa aku seorang istri dari seorang pria yang entah sedang apa. Dua hari lalu aku temukan chat mesra suamiku dengan teman kantornya, tanpa pikir panjang aku meracau sejadinya dan aku dengan emosi yang masih memuncak, memilih tidak mendengarkan penjelasannya. Bagiku, semua bukti sudah cukup, aku lelah dibohongi oleh suami pilihanku sendiri. Sepeda motor yang kami kendarai  memasuki sebuah jalan di batas kota, jalan yang bersejarah bagi kami berdua saat itu. Akhirnya kami menuju sebuah kedai bakso yang tidak jauh dari jalan raya, aku terpekur saja dan dengan sigap Abi memesankan makanan yang biasa kami makan, padahal aku tahu dia tidak pernah menyukai bakso.

Tiga puluh menit kami terpatri dalam diam, sesekali aku melihatnya, dia balas melihatku dan tersenyum. Mangkuk kami sudah kosong lalu Abi mengajakku pergi, aku tidak bertanya dan tidak pula menolak, bagiku memeluk punggungnya sudah sangat membantuku. Senja itu, Abi mengantarku pulang bukan tanpa sebab pastinya, aku pasrah. Saat punggungnya menjauh dari pandanganku, aku mulai menyadari wanita seperti apa diriku ini. Tanpa sepengetahuanku, Mas Ardhan sudah menungguku dengan cemas di ruang tamu. Dia lalu menghambur dan meminta maaf kepadaku, aku tersadar, pernikahan ini tidak akan teramat sulit kalu kita saling memahami dan menerima kekurangan satu sama lain lalu bersama-sama belajar memperbaiki diri.

Biarlah aku simpan cerita bersama Abi hari ini, semoga dia benar-benar bisa melanjutkan hidupnya tanpa aku ‘ganggu’ lagi.

 

 

 


 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN-PERASAAN YANG TAK BERNAMA

PERASAAN YANG TAK BERNAMA Oktober   2019 Aku memposting   foto bersama temanku, beberapa momen yang aku abadikan saat aku menjenguk salah satu sahabat di kota kembang ini. Tak seberapa lama, aku melihat seseorang   me- like postingan yang baru saja aku unggah. Aku mengerjapkan mata, tidak salah, ini Rakha Daruna, lelaki yang pernah aku kenal. Aku bahkan lupa kalau kita saling follow di media sosial. Bayanganku melesat jauh ke masa lalu sehingga jari ini tak kuasa menolak perintah hati untuk menyapanya, ku cari namanya tadi dan dengan sekali klik aku mulai memulai percakapan dengannya. “Kemaren aku ke Bandung, kotamu,,,,” Aku menyengaja untuk menggantung kalimat, ingin tahu rasanya balasan darinya. “Bandungnya di mana, ngapain, kok gak ngomong?” Secepat kilat dia membalas, dan deegg, hatiku rasanya panas. Aku sempet terdiam beberapa detik dan   melambungkan ingatanku ke beberapa tahun yang lalu, bilangan tahun berlalu tanpa ada ucapan perpisahan. ...

PERCAYA LAMPUNG TIMUR ITU KAYA?

sumber foto : https://haluanindonesia.co.id/2023/04/17/3-wisata-pantai-hits-di-lamtim-dengan-tiket-masuk terjangkau/ Sebagai seorang yang lahir dan besar di Lampung Timur, saya pernah menggantungkan  harapan tinggi kepada daerah yang dijuluki Bumei Tuah Bepadan . Julukan yang saya ketahui artinya sebagai daerah yang mempunyai kemakmuran bagi masyarakat apabila segala keputusan melalui musyawarah untuk mufakat. Karena, kabupaten yang memiliki luas wilayah kurang lebih 5.325,03 km2 atau sekitar 15% dari total wilayah Provinsi Lampung dilansir dari laman akun Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, memiliki  diversifikasi dan potensi sumber daya yang mempesona. Idealnya, Lampung Timur bukan hanya menunjukkan pendar di beberapa wilayahnya, tapi mestinya bisa memancarkan cahaya kehidupan di segala sisinya.   Berbicara tentang Lampung Timur, tidak lengkap jika hasil bumi yang melimpah,  absen dari pembahasan. Padi, singkong, jagung, lada hitam, kakao, pisang dan masih ban...