Hari ini memang sedikit terik, sinar matahari sedang hangat-hangatnya
memenuhi ruang, bukan ruang hati pastinya. Hari ini tepat 1 tahun kepergianku
meninggalkannya, lelakiku. Terkadang, aku saja yang merasa bersalah telah
meninggalkannya, seorang pria baik yang selalu pengertian. Selalu ada saat aku
butuh dan aku selalu tidak ada saat dia butuh. Dia bahkan tak pernah mengeluh
saat aku pergi, dia justru yang merasa bersalah saat aku memberikan banyak
sekali alasan klise, klasik dan palsu untuk pergi meninggalkannya. Padahal, di
hatiku masih terselip rasa sayang dan terkadang merindu. Abi, nama laki-laki
yang hanya pasrah saat aku menjauh dan semakin menjauh. Dia juga hanya bisa
mengucapkan ribuan maaf saat aku melangkah pergi.
Sepagi ini hatiku gelisah saja, bayangannya melintas terus
dibenakku. Sekelebat siluetnya pun muncul dan tak mau pergi. Iseng saja aku
cari facebooknya dan ketemu, tidak bisa diungkapkan lagi, aku merindukannya.
Aku tersenyum kecut mengutuki kebodohanku sendiri. Di saat ada masalah pelik
dengan suamiku, aku sibuk mencarinya. Karena di sosoknya, aku selalu menemukan
keteduhan dan ketenangan. Masih asyik menyelami kenangan masa lalu saat
bersamanya, tapi aku menemukan sedikit kejanggalan. Aku bertanya dalam hati
kenapa sudah tidak ada fotoku dan quote-quote galau miliknya dulu.
Sepertinya memang dia sudah benar-benar ingin mengubur ingatan tentangku.
Tidak mudah pastinya, 6 tahun bersama dan harus kandas begitu saja
tepat saat malam pergantian tahun. Aku berkali-kali menolak dia kembali, bahkan
saat aku sedang bermasalah, dia selalu membuka tangannya selebar-lebarnya
untukku. Belum selesai aku scroll down facebooknya, aku dikagetkan
dering ponselku yang di layarnya bertuliskan nama ‘SDRA JAWA’ yang merupakan
nomor ponselnya ‘ABI’ yang sengaja aku ganti namanya di kontakku supaya
suamiku, Mas Ardhan tidak curiga. Seketika aku gemetar, apakah dia merasakan
hal yang sama??
Keraguan untuk memulai percakapan semakin menggelayut, saat aku mau
menekan ‘YES’ dipanggilanku, dering itu mati. Aku berdiskusi dengan hatiku,
‘Apakah aku harus kembali padanya?’ atau ‘Apakah aku harus kembali ke realita
dengan orang yang sudah aku pilih sendiri?’ Gemuruh perasaan ini semakin
menjadi, aku galau, segalau-galaunya. Aku semakin ingin kembali kepelukannya karena
tidak ada orang sesabar dia di dunia ini, setidaknya yang pernah aku temui
sebelumnya. Dan, nyatanya aku menyia-nyiakannya demi mendapatkan seorang lelaki
pujaan hati seluruh wanita. Berat sekali aku lewati tahun ini, beban pekerjaan
yang semakin bertambah dan kecamuk batin dengan suamiku membuatku semakin ingin
pergi.
Aku beringsut dari kursi kerjaku dan berjalan gontai untuk mencuci
mukaku. Aku putuskan untuk menelponnya, mencari alasan untuk bertemu dengannya.
Aku rindu dipeluknya, ternyata aku serindu ini, inilah hal yang tak pernah aku
bayangkan sebelumnya. Aku menelfon dia, dan seperti dugaanku, dia pasti
merespon dengan cepat. Aku katakan untuk menjemputku di kantor, tentu saja
jangan sampai ketahuan suamiku, aku memaksa dia meminjam jaket ojek online
milik temannya. Pukul 4 kurang satu menit dia sudah sampai di kantor, dengan
jaket hijau itu, tentu saja tidak akan ada yang curiga.
Aku lega, memeluknya sepanjang jalan membuat aku lupa bahwa aku seorang
istri dari seorang pria yang entah sedang apa. Dua hari lalu aku temukan chat
mesra suamiku dengan teman kantornya, tanpa pikir panjang aku meracau sejadinya
dan aku dengan emosi yang masih memuncak, memilih tidak mendengarkan
penjelasannya. Bagiku, semua bukti sudah cukup, aku lelah dibohongi oleh suami
pilihanku sendiri. Sepeda motor yang kami kendarai memasuki sebuah jalan di batas kota, jalan
yang bersejarah bagi kami berdua saat itu. Akhirnya kami menuju sebuah kedai
bakso yang tidak jauh dari jalan raya, aku terpekur saja dan dengan sigap Abi
memesankan makanan yang biasa kami makan, padahal aku tahu dia tidak pernah
menyukai bakso.
Tiga puluh menit kami terpatri dalam diam, sesekali aku melihatnya,
dia balas melihatku dan tersenyum. Mangkuk kami sudah kosong lalu Abi
mengajakku pergi, aku tidak bertanya dan tidak pula menolak, bagiku memeluk
punggungnya sudah sangat membantuku. Senja itu, Abi mengantarku pulang bukan
tanpa sebab pastinya, aku pasrah. Saat punggungnya menjauh dari pandanganku,
aku mulai menyadari wanita seperti apa diriku ini. Tanpa sepengetahuanku, Mas
Ardhan sudah menungguku dengan cemas di ruang tamu. Dia lalu menghambur dan
meminta maaf kepadaku, aku tersadar, pernikahan ini tidak akan teramat sulit
kalu kita saling memahami dan menerima kekurangan satu sama lain lalu
bersama-sama belajar memperbaiki diri.
Biarlah aku simpan cerita bersama Abi hari ini, semoga dia
benar-benar bisa melanjutkan hidupnya tanpa aku ‘ganggu’ lagi.
Komentar
Posting Komentar