Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2021

Perihal Kesehatan Mental, Kita Bisa Apa?

Bicara tentang gangguan kesehatan mental, hanya satu hal yang bisa digambarkan yaitu "mengerikan". Sekilas terkesan sepele, tidak ada luka menganga yang pedih tersiram air garam. Tidak pula luka berdarah-darah yang perlu dijahit dan butuh perawatan di rumah sakit. Tapi, kesehatan mental bisa tidak ada obatnya kalau support system tidak bekerja. Peliknya lagi, orang-orang hanya akan memandang sebelah mata saat penyintas gangguan  kesehatan mental ( mental illness ) ini mengeluhkan masalahnya. Responnya bisa beragam, mulai dari menelisik perihal kurang iman, kurang ibadah, kurang bersyukur dan banyak toxic positivity lain yang tidak terbilang jumlahmya. Padahal, orang dengan gangguan kesehatan mental banyak ditemui dengan atau tanpa bergejala. Mereka ada di tengah-tengah kita tanpa kita sadari karena yang mereka tampakkkan hanya keadaaan baik-baik saja tanpa memperlihatkan beratnya masalah yang sedang ia pikul. Dia bisa saja tertawa saat bersama orang lain dan menangis saat s...

CERPEN-LELAKIKU, ABI

Hari ini memang sedikit terik, sinar matahari sedang hangat-hangatnya memenuhi ruang, bukan ruang hati pastinya. Hari ini tepat 1 tahun kepergianku meninggalkannya, lelakiku. Terkadang, aku saja yang merasa bersalah telah meninggalkannya, seorang pria baik yang selalu pengertian. Selalu ada saat aku butuh dan aku selalu tidak ada saat dia butuh. Dia bahkan tak pernah mengeluh saat aku pergi, dia justru yang merasa bersalah saat aku memberikan banyak sekali alasan klise, klasik dan palsu untuk pergi meninggalkannya. Padahal, di hatiku masih terselip rasa sayang dan terkadang merindu. Abi, nama laki-laki yang hanya pasrah saat aku menjauh dan semakin menjauh. Dia juga hanya bisa mengucapkan ribuan maaf saat aku melangkah pergi. Sepagi ini hatiku gelisah saja, bayangannya melintas terus dibenakku. Sekelebat siluetnya pun muncul dan tak mau pergi. Iseng saja aku cari facebooknya dan ketemu, tidak bisa diungkapkan lagi, aku merindukannya. Aku tersenyum kecut mengutuki kebodohanku sendir...